Yayasan Peduli Bangsa Tegaskan Kualitas Jadi Standar Utama Dapur MBG Kolelet Pandeglang

oleh -16 Dilihat
oleh

Jurnal 86.Com Kabupaten Pandeglang, Banten — Yayasan Peduli Bangsa menegaskan bahwa kualitas dan mutu bahan pangan menjadi standar utama dalam operasional Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Kolelet, Kabupaten Pandeglang. Pernyataan ini sekaligus membantah isu yang menyebutkan bahwa pengelolaan dapur tersebut tidak melibatkan pengusaha lokal.

‎Pihak yayasan menegaskan, Dapur MBG Kolelet sangat terbuka untuk bersinergi dengan pelaku usaha lokal, selama produk yang diajukan memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan dalam program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

‎“Isu bahwa dapur kami tertutup terhadap pengusaha lokal itu tidak benar. Kami terbuka bagi siapa pun, terutama potensi ekonomi desa, namun kualitas dan mutu adalah syarat mutlak,” tegas perwakilan Yayasan Peduli Bangsa.

‎Terkait produk tempe yang diajukan oleh salah satu pengusaha lokal, Kang Ari, pengelola menjelaskan bahwa hasil evaluasi tim ahli gizi menyatakan produk tersebut belum memenuhi standar yang dipersyaratkan.

‎“Ahli gizi memantau secara ketat aspek higienitas proses produksi, kepadatan tekstur, hingga konsistensi nilai nutrisi dari setiap sampel yang diajukan,” jelas pihak yayasan.

‎Kepala SPPG Yayasan Peduli Bangsa, Fitri Hermawati, menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil semata-mata demi menjaga keamanan dan kualitas asupan gizi anak-anak sebagai penerima manfaat program MBG.

‎“Kami memegang tanggung jawab besar terhadap kesehatan dan asupan siswa. Jika hasil penilaian ahli gizi menyatakan belum layak, kami tidak bisa mengambil risiko apa pun,” ujar Fitri.

‎Meski demikian, pihak yayasan tetap membuka ruang pembinaan bagi Kang Ari maupun pengusaha lokal lainnya untuk meningkatkan mutu produksi agar ke depan dapat memenuhi standar resmi yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

‎Sementara itu, Hendri, Ketua DPC Perkumpulan Basar Solidaritas Rakyat (PBSR) Kabupaten Pandeglang, turut memberikan klarifikasi. Ia menyebut bahwa pengelola Dapur MBG Kolelet justru sangat memprioritaskan masyarakat setempat.

‎“Saya pernah mengajukan nama untuk bekerja di dapur tersebut, tapi ditolak karena pengelola ingin mendahulukan warga sekitar. Dengan alasan itu, saya malah acungi jempol,” ungkap Hendri.

‎Ia pun mengaku heran jika masih ada pihak yang menuding dapur MBG Kolelet tertutup terhadap pelaku lokal.

‎“Faktanya, pengelola benar-benar mengutamakan masyarakat setempat. Jadi tudingan bahwa dapur ini tidak berpihak pada lokal itu tidak berdasar,” pungkasnya.

‎Iwan Gejes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.