KEHILANGAN SANG PUTRI BIKIN RAHMAWATI BANGKIT DARI KETERPURUKAN

oleh -818 Dilihat

Jurnal86.Com Lawang kidul-Muara Enim Kecintaan Rahmawati pada hasil Pertanian bernama Jamur Tiram bisa dikatakan sudah harga mati bagi warga Tanjung Enim Kecamatan Lawang Kidul Kabupaten Muara Enim ini. Begitu istilah Ungkapan Sosok Salah satu Pengrajin Jamur Tiram yang di Jumpai Tim ini. Rabu 30/6/2021.

Seperti Penggalan dari lirik lagu ‘Tak Bisa Ke Lain Hati’ begitu yang dialami Rahmawati, meskipun terpaan cobaan dan jatuh bangun pada usaha yang dibangun oleh dirinya akan tetapi tetap berpegang teguh pada keyakinan diri bahwa, Jamur Tiram akan dapat memberikan manfaat besar pada kehidupan Ekonomi keluarga.

Semenjak diawali menjadi mitra binaan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan mengolah Usaha Pupuk Bokasi Namun seketika Itu dan mampu membuat pandangannya berpaling dan tertarik pada usaha budidaya Jamur Tiram.

Setelah mengikuti pelatihan budidaya jamur tiram yang diadakan oleh Pemerintah Kecamatan Lawang Kidul dengan bekerjasama CSR PT Bukit Asam Tbk Tahun 2013 lalu yang  berTema”Teknologi Tepat Guna”, Kemudian dia langsung beraksi dengan mensurvei kebutuhan jamur di pasar dan menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukannya.

Dengan Tekat memberanikan diri Waktu itu, ia mengajak teman-temannya di Bedeng Kresek Tanjung Enim Lawang Kidul untuk membudidayakan Jamur Tiram. Siapa sangka, dengan bekal ilmu dari Pelatihan dan modal Patungan serta memanfaatkan lahan yang ada disekitar rumah Kemudian dia bisa memanen jamur sebanyak 500 baglog (media tanam) hingga mencapai 3 ribu baglog.

Dari penanaman hingga penjualan memakan waktu lebih kurang 3-4 bulan setelah dipotong biaya air dan listrik bisa dapat Rp 6 juta per 10 hari panen.

Hingga pada akhirnya, dengan adanya relokasi warga dari Bedeng Kresek membuat usaha jamur tiram yang dimulai sejak 2013 hingga 2016 terhenti.

Sempat berhenti dari dunia jamur tiram selama 6 bulan, tahun 2017, ia membuka lagi usaha jamur tiram dengan modal sendiri dan bisa menerima omset mencapai Rp 8 juta per bulan. Namun hasil ini tidak bisa dibilang cukup, karena harus diputar kembali untuk memenuhi kebutuhan usaha jamur miliknya ini.

Hingga tahun 2019 dia mendapatkan bantuan modal dari Corporate Social Responsibility (CSR) PTBA sebesar Rp 35 juta dan bisa membuat 15 ribu baglog.

Semua orang pasti ingin berhasil demikian juga Rahmawati Tapi apa Daya, tidak semua keinginan berjalan mulus, garis hidup berkata lain, pada tahun 2019, setelah panen pertama, Rahmawati kehilangan sang putri yang perlu perawatan serius di rumah sakit Palembang hingga tangan dinginnya menjaga baglog-baglog jamur tidak bisa diawasi sepenuhnya.

Alhasil, hingga musibah itu datang, sang putri meninggal, semakin membuat duka mendalam bagi dirinya. Rahmawati berkata saat itu rasanya mau mati saja dan tidak ada rasa untuk kembali hidup Sepertinya, apalagi kembali menggeluti usaha jamur.

Padahal saat itu, hasil panen sedang tumbuh banyak meskipun hasil tidak sempurna atau tidak sesuai standar jamur yang layak dan dijual di pasaran karena minimnya sentuhan tangan dinginnya.

Semangat yang dulu ada membuat luntur seketika.

Kemudian Waktu pun berjalan, semak belukar mulai berdatangan dan tumbuh di rumah Kumbung Jamur miliknya saat itu semakin lesu semangat hidupnya.

Bisa dikatakan Waktu itu, saya berhenti total di Usaha Jamur. Kerja serabutan pun mulai dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terlebih ditambah suami tidak bekerja dan mulai masuk masa pandemi Covid-19.

Rasanya sangat malu bila berjumpa dengan orang-orang CSR PTBA, karena masih ada angsuran yang belum lunas di PTBA.

Dahulu pernah merasakan setelah masa Inkubasi selama 40 hari bisa panen 3-4 kali sehari. Hasil panen ini yang kemudian diolah menjadi berbagai macam kreasi makanan yang menggungah selera seperti sate, nugget, bakso, jamur cripsy, stik jamur, pangsit dan banyak lagi yang kemudian akan di distribusikan secara luas.

Goresan-goresan indah ini pernah menjadi percakapan bersama suami, apakah bisa terulang kembali.

Hingga akhirnya babak baru untuk kembali ke Cinta akan pandangan pertama yaitu Jamur Tiram dirasakan akan segera bertemu. Kedatangan Tim CSR ke lokasi kumbung jamur membuat cerita berbeda.

Benar saja, dengan penuh keluh kesah ia menyampaikan kepada Tim CSR PTBA apa yang terjadi hingga Kumbung Jamurnya saat itu penuh dengan semak belukar.

Melalui petunjuk dan bimbingan CSR PTBA, ia membuat proposal bantuan untuk usaha jamur. Awal Januari 2021 diajukan proposal dan akhir Februari 2021 pencairan dana bantuan yang ke-2.

Syukur Alhamdulillah, mungkin dengan kepercayaan, Rahmawati mengatakan akhirnya PTBA memberikan bantuan kembali untuk usaha Jamur Tiram melalui dana hibah sebesar Rp 15 juta.

Dengan tetap menjadi binaan Sentra Industri Bukit Asam (SIBA) Jamur tetap bernama Kelompok Jamur Tiram “Bukit Mandiri” di Desa Keban Agung Kecamatan Lawang Kidul, akhirnya Rahmawati dan suaminya membuka lembaran usaha jamur tiram kembali.

“Bantuan ini membuat usaha Jamur Tiram yang dikelola bersama suami menjadi bangkit dari keterpurukan, bulan Juni kemarin panen perdana sebanyak 5 ribu baglog,” ucapnya.

Ia sangat bersyukur bentuk tanggung jawab Sosial dari Perusahaan untuk maju dan berkembang bersama lingkungan yang diberikan benar-benar bisa dirasakan.

Dan atas kepercayaan dari Perusahaan melalui pola mitra binaan PTBA, Rahmawati akan tetap mempertahankan dan terus meningkatkan kreasi produk olahan jamur dengan menambah banyak lagi varian-varian menarik dari jamur, sehingga tetap eksis dan memperluas Pangsa Pasar. (Sukri).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.